Transportasi
merupakan suatu hal vital dalam kehidupan manusia. Mengapa bisa dikatakan
vital?  Fungsi transportasi adalah untuk memudahkan proses
pemindahan manusia, hewan dan barang dari tempat asal ketempat
tujuannya dengan suatu media yang digerakkan oleh makhluk hidup atau mesin.1Apalagi
seiring perkembangan teknologi, terciptalah transportasi online yang tentunya
lebih memudahkan proses tersebut. Hanya
dengan koneksi internet untuk membuka aplikasi agar dapat memesan dan
menentukan tujuan setelah itu beberapa saat kemudian driver langsung datang lalu konsumen dapat diantar ke tempat tujuan.
Disamping itu, biaya yang dikeluarkan cukup terjangkau untuk kelompok
masyarakat menengah ke bawah. Tidak bisa dipungkiri, transportasi online tentunya
menjadi pilihan utama masyarakat era sekarang yang menginginkan kebutuhannya
terpenuhi secara instan.

Tetapi, setiap hal pasti ada dampak positif dan negatifnya. Apa
sajakah dampak negatif yang ditimbulkan dari transportasi online ini? Jika
dilihat dari sudut pandang lain, misalnya sudut pandang pemilik angkutan umum
konvensional, mereka merasakan kerugiannya secara langsung karena berkurangnya
konsumen atau penumpang. Contohnya seperti kasus yang terjadi baru-baru ini di
kota Cirebon,Jawa Barat. Terjadinya aksi protes para pemilik angkutan kota terhadap
transportasi online yang berlangsung selama 5 hari sehingga Pemkot Cirebon bersama Polresta Cirebon mengajak
perwakilan dari kedua belah pihak untuk merumuskan kesepakatan agar bisa
berdamai. Alhasil, enam pasal kesepakatan berdamai pun dirumuskan dan berhasil
disepakati seperti digratiskannya uji KIR dan izin trayek bagi angkot, adanya
aturan penjemputan bagi angkutan online, pembatasan armada bagi angkutan online
, dan pembentukan Satgas Transportasi Online dan Konvesional (Oke)2. Tetapi
belum lama setelah dibentuk enam pasal tersebut, Dinas Perhubungan (Dishub) membentuk kebijakan baru yang melarang
transportasi online beroperasi di Jawa Barat. Hal ini merupakan hal yang sangat
disayangkan karena menyebabkan pembatalan perdamaian antara kedua belah pihak
yang seharusnya berjalan lancar dan dapat memuaskan warga.

We Will Write a Custom Essay Specifically
For You For Only $13.90/page!


order now

Tidak hanya dalam bidang ekonomi, pihak lain yang kontra
dengan keberadaan transportasi online juga berpendapat bahwa kendaraan yang
digunakan tidak sesuai dengan peraturan yang berlaku. Kendaraan dengan plat
berwarna kuning dan terdaftar di Dinas Perhubungan daerah merupakan aturan
transportasi umum, sementara transportasi berbasis aplikasi pada umumnya
menggunakan kendaraan dengan plat berwarna hitam. Kewajiban dalam membayar
pajak bagi transportasi umum juga tidak diberlakukan kepada para supir
transportasi online baik pajak penghasilan maupun pajak kendaraan umum
sebagaimana dilakukan oleh para supir angkutan umum. Selain itu, kendaraan umum
harus menjalani uji kelayakan beroperasi, sedangkan kendaraan yang digunakan
untuk transportasi online bersifat sebagai kendaraan pribadi di mana pemenuhan
syarat surat-surat lengkap sudah bisa didaftarkan untuk beroperasi.

Dimanakah peran pemerintah dalam mengatasi polemik ini? Dengan
tidak adanya aturan yang mengatur keberadaan angkutan umum berbasis aplikasi
ini akhirnya dapat menimbulkan rasa ketidakadilan dari pihak transportasi umum
konvensional. Pemerintah harus mampu mengakomodasi semua kebutuhan pelaku usaha
yang menjunjung tinggi rasa keadilan. Wakil
Gubernur Jawa Barat Dedi Mizwar berpendapat bahwa ketidakadilan yang terjadi
antara transportasi konvensional dan berbasis aplikasi ini bersifat
diskriminatif  dan mempersulit pemilik
transportasi online. Bahkan Demiz berharap, pemerintah pusat mampu
memberdayakan transportasi konvensional yang berizin untuk dapat menggunakan
aplikasi sehingga mereka tidak merasa dirugikan dan disamping itu mereka tidak
menolak perkembangan teknologi dan justru menerapkannya.3

Ketepatan waktu yang jelas, lebih praktis, aman,
murah, dan pelayanannya yang jauh berbeda dengan pelayanan yang diberikan oleh
transportasi konvensional jelas merupakan nilai tambah adanya transportasi online. Justru seharusnya hal ini
dijadikan kesadaran dan contoh oleh para supir angkutan umum. Perbaikan layanan yang dilakukan angkutan umum
konvensional perlu dilakukan sehingga angkutan umum konvensional bisa bersaing
dan tetap mendapat tempat masyarakat.4

Polemik yang terjadi antara transportasi
konvensional dan transportasi online berpusat pada keadilan antar kedua belah
pihak. Tidak dikesampingkan kesadaran masing-masing akan adanya aturan yang
berlaku untuk beroperasi dan juga perkembangan teknologi yang makin berkembang
sehingga memengaruhi pola pikir masyarakat dalam menggunakan atau memanfaatkan
teknologi sebaik mungkin demi kemudahan dalam kehidupannya sehari-hari. Solusi
yang mungkin bisa dilaksanakan adalah penerapan sistem berbasis aplikasi  pada angkutan umum. Sulit dilakukan, tetapi
pengaruh yang akan terjadi ke depannya pantas diperhitungkan.